Jumat, 02 Agustus 2013

laporan mengembang dan mengerut





Laporan Praktikum
Dasar-Dasar Ilmu Tanah
                                 
MENGEMBANG DAN MENGERUT


DI SUSUN OLEH :

NAMA                  :  SUDIRMAN
                                 NIM                   :  G11112041
KELOMPOK       :  7 (Tujuh)
ASISTEN              :  


LABORATORIUM FISIKA TANAH
JURUSAN ILMU TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2012

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Mengembang dan mengerut merupakan salah satu sifat fisik tanah. Di mana sifat mengembang ditandai dengan terisinya semua ruang pori tanah baik makro maupun mikro oleh molekul-molekul air dan gejala ini terjadi ketika tanah dalam keadaan basah. Sedang sifat mengerut tanah terjadi ketika tanah dalam keadaan kering setelah basah yang ditandai dengan semakin mengecilnya pori-pori tanah pada waktu mengerut.
Pengembangan yang menyebabkan tertutupnya pori-pori tanah terjadi karena beberapa sebab, sebagian pengembangan terjadi karena penetrasi air ke dalam lapisan kristal liat, yang menyebabkan pengembangan dalam kristal. Akan tetapi, sebagian besar terjadi karena tertariknya air ke dalam koloid-koloid dan ion-ion yang terabsorbsi pada liat dan karena udara yang terperangkap di dalam pori mikro ketika memasuki pori tanah.
Beberapa jenis tanah mempunyai sifat mengembang dan mengerut sehingga mengalami pecahan-pecahan pada musim kering. Sifat mengembang dan mengerut tanah disebabkan oleh kandungan mineral dari montmoriloniit yang tinggi dan rendah. Mineral dibedakan menjadi dua yaitu mineral primer dan mineral sekunder. Mineral primer adalah mineral asli yang terdapat dalam batuan yang melapuk yang terdiri dari fraksi-fraksi pasir dan debu. Mineral sekunder adalah mineral primer yang menghasilkan mineral baru yang esensial untuk perkembangan dan penyuburan yang umunya terdapat dalam fraksi liat yang sering ditemukan dalam tanah antara lain kaolinit, haloisit, montmorillonit, gibsit (Al Oksida), Fe Oksida dan lain-lain. Mineral liat sekunder besar pengaruhnya terhadap sifat-sifat fisik tanah seperti kapasitas tukar kation, daya mengembang dan mengerut tanah dan lain-lain (Hardjowigeno, 2003).
Berdasarkan uraian diatas maka perlu dilaksanakan praktikum tentang sifat mengembang dam mengerut pada tanah.
I.2. Tujuan dan Kegunaan
Tujuan praktikum sifat mengembang dan mengerut adalah untuk mengetahui persentase pengerutan dan pengembangan tanah dalam keadaan basah dan kering pada tanah lapisan II.
Kegunaan praktikum ini adalah untuk mengetahui cara pengolahan dan penanganan pada tanah-tanah yang memiliki sifat mengembang dan mengerut, sehingga kita dapat mengetahui jenis tanah yang cocok untuk lahan pertanian.


II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Proses Mengembang dan Mengerut Tanah
Sifat mengembang dan mengerut tanah terjadi karena kandungan liat monmorilonit yang tinggi. Tanah mengembang pada saat basah dan tanah mengerut pada saat kering. Akibatnya pada saat musim kering tanah menjadi pecah-pecah dan kalau basah tanah mengembang dan menjadi lengket, apabila tanahnya memiliki kandungan liat yang tinggi maka pertikel litanya akan mudah mengalami perluasan akibatnya tanah ini mengembang pada keadaan lembab dan mengerut pada keadaan kering (Hardjowigeno, 2003).
Mengembang dan mengerut salah satu sifat fisik tanah. Dimana sifat mengembang ditandai dengan terisinya semua ruang pori-pori tanah baik makro maupun mikro oleh molekul-molekul air dan gejala ini terjadi ketika tanah dalam keadaan basah. Sedang sifat mengerut tanah terjadi ketika tanah dalam keadaan kering setelah basah yang ditandai dengan semakin mengecilnya pori-pori tanah pada waktu mengerut. Pengerutan biasanya terjadi pada musim kemarau atau musim kering. Pengerutan adalah keadaan dimana tanah mengalami retakan retakan, yang disebabkan oleh karena ruang atau pori tanah tresebut tidak terisi oleh air yang cukup.
Pengerutan pada tanah akan mengakibatkan terjadinya pematahan pada akar tanaman.
Sifat mengembang pada tanah, selain pori-pori tanah yang terisi oleh air, juga retakan-retakan yang ada pada tanah. Pengembangan yang menyebabkan tertutupnya pori-pori tanah makro dan retakan tanah, mengakibatkan tanah kurang mampu menyerap air sehingga kelebihan air hujan akan menimbulkan aliran permukaan yang besar dan akibat yang lebih besar adalah terjadinya banjir yang dapat membahayakan kesuburan tanah dan bahkan kehidupan manusia.(Anonim, 2011)
Retakan-retakan tanah dapat memperbaiki aerasi tanah di bagian yang lebih dalam. Namun, retakan-retakan yang terlalu lebar dapat menyebabkan putusnya akar-akar tanaman. Pengembangan dan pengerutan tanah yag tidak sama dapat menyebabkan retakan pondasi gedung-gedung, sedang jala-jalan yang diperkeras menjadi bergelombang.
2.2. Faktor Yang Mempengaruhi Mengembang dan Mengerut pada Tanah.
Adapun faktor- faktor yang mempengaruhi sifat mengembang dan mengerut pada tanah dalah kadar air dalam tanah, luas ruang atau pori tanah serta kandungan mineral liat. Ketiga faktor ini sangat berpengaruh disebabkan karena apabila kadar air dalam tanah tinggi maka pori atau ruang dalam tanah akan banyak terisi oleh air, sehingga terjadi pengembangan pada tanah.begitu juga sebaliknya. Kandungan liat juga sangat berpengaruh disebabkan karena permukaan liat yang besar dan dapat menyerap banyak air sehingga tanah yang memiliki kadar liat yang tinggi sangat mudah terjadi pengembangan begitu pula sebaliknya. (Munir,1996).
Sifat mengembang dan mengerut tanah disebabkan oleh kandungan liat mentrollnit yang tinggi. Tanah mengembang pada saat basah dan tanah mengerut pada saat kering. Akibatnya pada saat musim kering tanah menjadi pecah-pecahkalau basah tanah mengembang dan menjadi lengket (Hardjowigeno,1998 ). Apabila tanahnya memiliki kandungan liat yang tinggi maka pertikel liatnya akan mudah mengalami perluasan akibatnya tanah ini mengembang pada keaadan lembab dan mengerut pada keadaan kering.
Pada saat kering tanah mengalami pelebaran serta dalam keretakannya bisa mencapai pada lapisan kedua.sifat mengembang ditandai dengan terisinya semua ruang pori-pori tanah baik makro maupun mikro oleh molekul-molekul air dan gejala ini terjadi ketika tanah dalam keadaan basah. Sedang sifat mengerut tanah terjadi ketika tanah dalam keadaan kering setelah basah yang ditandai dengan semakin mengecilnya pori-pori tanah pada waktu mengerut.




III. METODOLOGI
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum sifat mengembang dan mengerut ini dilaksanakan pada hari jumat tanggal 7 Desember 2012. di Laboratorium Fisika Tanah Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar.
3.2.  Alat Dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah timbangan, tabung reaksi, cawan Petridis, gelas ukur, mistar dan oven.
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sampel tanah, air, dan tissue.
3.3.  Prosedur Kerja
A.    Pengerutan Tanah
Ø  Masukkan tanah pada cawan petrish hingga hampir penuh
Ø  Tambahkan air hingga menimbulkan sedikit genanngan, kemidian di ovenkan selama 1 x 24 jam (satu hari)
Ø  Keluarkan cawan petrish dan tanah, kemidian di dinginkan
Ø  Tingkat pengerutan dapat di nyatakan dengan memperkirakan luas retakan-retakan dengan luas permukaan tanah semula dengan keadaan basah, retakan-retakan di bagi dalam segmen-segmen yang di ukur panjang dan lebarnya.
Perhitungan :
Luas permukaan Tanah =,,,,,,,,,,cm2
Menghitung nilai pengerutan tanah dengan persamaan :
                                            Total lus retakan
Pengerutan tanah =                                             X 100 %
                                         Luas permukaan tanah
B.Pengembangan Tanah
Ø  Tanah kering (< 2 mm) dimasukkan ke dalam gelas ukur  50 ml hingga volume tanah 15 ml. gelas ukur ini dihentak-hentakkan beberapa kali untuk memadatkan tanah.
Ø  Keluarkan tanah dari gelas ukur tersebut ke wadah lain.
Ø  Masukkan aquadest sebanyak 25 ml ke dalam gelas ukur, kemudian masukkan lagi tanah sedikit demi sedikit hingga semua masuk ke dalam air. Air didalam gelas tambah bila ada bagian tanah yang belum basah.
Ø  Biarkan tanah membasah selama 30 menit, kemudian gelas ukur dihentak-hentakkan supaya tanah lebih padat.
Ø  Bacalah volume tanah yang telah basah tersebut. Hitung besarnya persentase pertambahan volume tanah yang telah basah dibandingkan dengan yang kering.


Ø  Menghitung nilai pengembangan tanah dengan persamaan :
                   VTB - VTK
Pengembangan tanah =                                         x 100 %
                                                      VTK



IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 9. Hasil Perhitungan Tanah Inceptisol Lapisan Ii Sebagai Berikut :
Segmen No
Panjang (cm)
Lebar (cm)
Luas (cm2)
1
4
0,2
0,8
2
3,5
0,3
1,05
3
3,7
0,2
0,44
Total Luas Retakan


2,59

Tabel 10. Hasil Perhitungan Sifat Mengembang
No
Sampel Tanah
Volume Tanah Kering (ml)
Volume Tanah Basah (ml)
Persentase pengembangan
1
Inceptisol lapisan II
9
10,2
8%


Tabel 11. Hasil Perhitungan Sifat Mengembang dan Mengerut pada tanah Inceptisol lapisan II
Lapisan
% pengembangan
% pengerutan
II

8 %

4,07%


4.2  Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh pada tanah Inceptisol lapisan II persentase pengembangannya adalah 120 % dan pengerutannya 4.07 % di mana lapisan ini pengembangan lebih relatif tinggi, hal ini disebabkan karena lemahnya ikatan oksigen di dalam tanah. Hal ini sesuai dengan pendapat Hardjowigeno (2003) yang menyatakan bahwa mineral liat montmoriollinit yang bertipe 2 : 1 masing masing unit di hubungkan dengan yang lain yaitu ikatan oksigen dengan air sehinnga tanah mengakibatkan tanah mudah mengerut bila kering.
Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat mengembang dan mengerut pada tanah adalah kadar air dalam tanah, luas ruang atau pori tanah serta kandungan mineral liat. Ketiga faktor ini sangat berpengaruh disebabkan karena apabila kadar air dalam tanah tinggi maka pori atau ruang dalam tanah akan banyak terisi oleh air, sehingga terjadi pengembangan pada tanah, begitu juga sebaliknya. Kandungan liat juga sangat berpengaruh disebabkan karena permukaan liat yang besar dan dapat menyerap banyak air sehingga tanah yang memiliki kadar liat yang tinggi sangat mudah terjadi proses pengembangan begitu pula sebaliknya. Tanah yang banyak mengandung pasir akan mempunyai tekstur yang kasar, mudah untuk diolah, mudah merembeskan air, dan disebut sebagai tanah ringan. Sebaliknya tanah yang banyak mengandung liat akan sulit untuk meloloskan air, aerasi jelek, lengket, dan sulit dalam pengolahannya sehingga disebut tanah berat. Berat ringannya tanah akan menentukan besarnya derajat kerutan tanah. Semakin tinggi kandungan liat, semakin besar derajat kerut tanah. Selain itu, bahan organik tanah maka derajat kerut tanah semakin kecil.










V.PENUTUP
5. 1. Kesimpulan
Potensi mengembang dan mengerut pada tanah Inceptisol mengalami peningkatan dari lapisan I ke lapisan II karena lapisan II memilki kandungan liat yang lebih tinggi daripada lapisan I.
5. 2. Saran
Diharapkan setelah mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan dan pengerutan tanah, guna penanggulangan lebih lanjut pada tanaman yang menggunakan tanah sebagai media tumbuh.










DAFTAR PUSTAKA
Buckman dan Brady, 1982. Ilmu Tanah. Bharata Karya Aksara. Jakarta.
Foth, H.D. 1994. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadja Mada University Press,Yogyakarta.

Hakim, Dkk 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung, Lampung.
Hardjowigeno. S, 2003. Ilmu Tanah. Penerbit Akademika Pressindo, Jakarta.
Pairun Dkk 1997. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri Bagian Timur, Makassar.
           


LAMPIRAN
Lampiran II : hasil perhitungan tanah Alfisol lapisan II
Pengembangan tanah :
Dik : Volume tanah basah   = 10,2 ml
          Volume tanah kering = 9 ml
Dit, Pengembangan tanah inceptisol lapisan II  = ….?
Penyelessaian :
% Pengembangan = (Volume tanah basah – Volume tanah kering)  x 100%
                                                            Volume tanah kering
                             = x1 00%
                              = 8%
Pengerutan Tanah :
lapisan II
segmen 1
Dik : panjang  = 4 cm
         Lebar     = 0,2 cm          
Dit : Luas Retakan …?
Peny :
Luas = Panjang x Lebar
        = 4 x 0,2
        = 0,8cm2
Segmen 2
Dik : panjang  = 3,5 cm
         Lebar     = 0,3 cm          
Dit : Luas Retakan …?
Peny :
Luas = Panjang x Lebar
        = 3,5 x 0,3
        = 1,05 cm2
Segmen 3
Dik : panjang  = 3,7 cm
         Lebar     = 0,2 cm          
Dit : Luas Retakan …?
Peny :
Luas = Panjang x Lebar
       = 3,7 x 0,2
        =  0,44 cm2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar